pursuit of happiness

20 04 2008

Mencari kebahagiaan padanan bahasa indonesianya. Baru hari ini saya nonton film will smith ini yang ternyata based on true story, yang ternyata juga ada kesamaan dengan perjalanan hidup saya, yang ternyata juga saat menonton film ini saya ditemani juga dengan anak kedua saya. Jadi ingat saat sulit saya dan saat saya merasa harus selalu bersyukur dengan semua yang diberi Allah SWT pada saya dan keluarga saya. 





Masih dalam tahapan belajar

5 03 2007

study 

Banyak hal yang sedang dan akan saya tulis selama melakukan suatu pekerjaan. Bagi saya lintasan waktu selalu memberikan pengalaman, pengetahuan, kesan, dan rasa yang berbeda yang membuat saya ingin menjadikannya abadi dengan menuliskannya dalam sebuah tulisan sederhana.

Sebenarnya bukan hanya pengalaman dunia kerja saja yang saya tulis, tapi saya merasa banyak hal yang berguna yang saya dapatkan selama bekerja yang saya ingin tuliskan. Saya sudah bekerja selama lebih dari sepuluh tahun sejak masih kuliah di UI. Kalau dulu karena belum ada blog (atau sudah ada tapi saya belum tahu), saya menulis mengenai suatu hal yang sedang saya kerjakan dalam sebuah buku (bukan diari)

Sekarang sudah ada blog. Dan saya menuliskan apa yang saya rasakan kedalam sebuah blog. Setelah melalui berbagai percobaan membuat blog dengan berbagai fokus, akhirnya saya membuat blog ini.

Yah memang sudah lama saya ingin menulis mengenai bidang pekerjaan yang sedang saya tekuni dalam suatu blog, khususnya saat ini dimana saya bekerja di sebuah organisasi internasional yang mencoba memberikan kontribusi bagi perkembangan microfinance di Indonesia.

Asyik juga ternyata melihat perkembangan microfinance di Indonesia. Jujur saja tadinya saya memandang sebelah mata microfinance karena selama ini bekerja di commercial bank. Ternyata …………….  

Memang saya masih dalam tahap belajar mengenai microfinance di Indonesia, tapi itu bukan penghalang untuk saya berbagi sedikit pengetahuan yang saya miliki ini. Semoga berguna

Warm Regards 





Housing Microfinance

23 02 2007

home 

Housing Microfinance vs Regular Mortgages

  1. small amount   vs   huge amount
  2. short term   vs   long term
  3. urban & rural area   vs   urban area
  4. high interest rate compare to regular mortgages   vs   low interest rate
  5. no collateral for certain amount   vs   collateral mandatory
  6. targeted poor & very poor   vs   avoid poor & very poor
  7. also serving post disaster & post conflict   vs   not serving post disaster & post conflict
  8. TA as additional services   vs   do not provide TA
  9. need deep risk analysis   vs   regular consumer loan

Housing Microfinance vs Regular MF Loans

  1. impact borrower’s assets   vs   impact borrower’s income
  2. relatively larger amount   vs   may offer very small amount
  3. individual loans   vs   can be individual or group loans
  4. longer term   vs   can be very short term
  5. usually for existing client based on his performance   vs   available for all client
  6. need more liquidity analysis   vs   regular consumer loan
  7. need deep knowledge in legal aspects   vs   regular consumer loan





Ternyata ……..

8 02 2007

 indonesia

ternyata …….. ada 1.935 BPR di Indonesia (juli 2006)

ternyata …….. 80% nya berlokasi di Jawa dan Bali

ternyata …….. 80% BPR di Jawa dan Bali berlokasi di kabupaten, kecamatan, dan desa

ternyata …….. 85% kredit BPR disalurkan ke konsumsi dan perdagangan

ternyata …….. hanya 6% kredit BPR ke sektor pertanian

ternyata …….. dari 1.935 BPR, 752 BPR dimiliki pemerintah daerah

ternyata …….. ada 105 BPR syariah di Indonesia

ternyata …….. BPR Karyajatnika Sadaya di Jawa Barat sudah menggunakan ATM (automatic teller machine ) dan ADM (automatic deposit machine) untuk melayani nasabahnya.  

ternyata …….. average jumlah savings dan kredit BPR di Jakarta adalah yang terendah di Indonesia  

ternyata …….. average jumlah savings dan kredit BPR di Lampung adalah yang tertinggi di Indonesia 

ternyata …….. dari data diatas di BPR ekonomi lebih terdistribusi dengan baik





Super Linkage Program Bank Mandiri

8 02 2007

 mandiri

Linkage program adalah program yang disponsori Bank Indonesia untuk menjembatani kerjasama antara Bank Umum dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank Indonesia melihat program ini sebagai sarana untuk mempercepat fungsi intermediasi perbankan yang sempat tidak berjalan dengan lancar sejak terjadi krisis ekonomi.

Lalu mengapa disebut super untuk linkage program Bank Mandiri ? saya menyebut super linkage program Bank Mandiri karena per desember 2006 jumlah BPR yang mendapatkan pinjaman lewat linkage program Bank Mandiri mencapai 1.001 BPR. Jumlah yang sangat besar karena mencapai setengah dari total jumlah BPR di Indonesia. Dan total dana outstanding kredit yang dikucurkan Bank Mandiri untuk program ini mencapai Rp. 933 milyar atau 1/3 dari total dana yang dikucurkan 14 bank peserta linkage program yang sampai dengan desember 2006 mencapai Rp 3,4 triliun.

Secara tidak langsung sebenarnya saat ini Bank Mandiri sudah menjadi Apex Bank bagi 1.001 BPR yang menjadi peserta linkage program-nya walaupun Bank Mandiri sendiri juga menjadi Apex Bank untuk BPR di wilayah Jawa Barat.

Bank Mandiri sebenarnya masih dapat berkiprah lebih besar lagi dalam linkage program mengingat dana Rp. 933 milyar yang dikucurkan untuk program ini sangat kecil nilainya dibandingkan total kredit yang disalurkan Bank Mandiri yang mencapai Rp 103 triliun (november 2006).

Untuk Bank Mandiri program ini membantu Bank Mandiri bukan saja dalam hal penyaluran kredit namun juga dapat secara efisien mencapai pangsa pasar yang lebih luas ke sektor mikro yang selama ini sulit mendapatkan akses ke Bank Mandiri dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki BPR peserta linkage program.   





Model Bisnis Bank Umum di Microfinance

8 02 2007

model 

Tulisan singkat ini mengkaji model bisnis yang digunakan bank umum (commercial bank) dalam menjalankan bisnis microfinance. Sejak digulirkan tahun 1970-an, saat ini sudah semakin banyak bank umum yang ikut masuk ke bisnis microfinance terlebih setelah krisis keuangan di Asia menunjukkan banyak usaha microfinance yang lebih kuat dalam menghadapi krisis tersebut.

Sebelumnya banyak analis mengira hanya NGO yang banyak berkecimpung di bisnis microfinance, namun perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa tidak sedikit bank umum yang menjalankan usaha microfinance (World Bank, 1996; Almeyda, 1997). Kajian Almayda menunjukkan bahwa banyak bank umum yang berpartisipasi dalam microfinance dalam jumlah yang cukup signifikan bahkan jika dibandingkan dengan NGO.

Kajiannya juga menunjukkan alasan mengapa bank umum masuk ke bisnis microfinance yaitu : keuntungan, perubahan market dan persaingan yang ketat di pembiayaan korporasi, alasan sosial, dan regulasi pemerintah yang mengharuskan bank umum membiayai microfinance.

Secara umum ada 4 model bisnis bank umum di microfinance yaitu :

  1. Internal microfinance unit didalam bank (BRI Unit & DSP)
  2. Linkage program (Bank Mandiri)
  3. Mendirikan perusahaan microfinance (Bank Permata mendirikan BPR-BPR)
  4. Mendirikan usaha jasa microfinance 

Dari ke empat model diatas, di Indonesia model yang banyak digunakan adalah linkage program. Linkage program banyak dipilih karena bank umum hanya memberikan pinjaman dengan bunga komersial pada lembaga microfinance (umumnya BPR). Dengan menjalankan linkage program, bank umum mendapat banyak manfaat dari microfinance (penyaluran kredit, bunga komersial, sesuai program pemerintah, dan mendapat tambahan tingkat kesehatan bank) tanpa harus terlibat dalam operasional microfinance.





Danamon Simpan Pinjam

5 02 2007

danamon 

 

Teori perang Sun Tzu berkata, “ kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali medan perangmu, maka kamu akan memenangkan pertempuran”. Entah terinspirasi dari teori diatas atau tidak, pada November 2003 Bank Danamon melakukan riset terhadap 1000 pengusaha kecil dan mikro di 8 kota besar sebelum benar-benar masuk ke bisnis microfinance (bidang yang tidak mudah untuk dimasuki karena sudah banyak pemain dan berkarakteristik memiliki resiko dan biaya tinggi).

Riset terhadap 1000 pengusaha kecil yang sebagian besar berada didaerah sekitar pasar, menghasilkan beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Akses pengusaha kecil dan mikro terhadap jasa keuangan :
    • 94% responden membutuhkan pinjaman namun hanya 36% dari 60% yang mempunyai pinjaman meminjam dari BRI dan bank komersial lainnya
    • Hanya 5% yang meminjam dari BPR & sisanya meminjam dari teman, keluarga, koperasi, bahkan rentenir
  2. Persepsi pengusaha kecil dan mikro terhadap perbankan :
    1. Persyaratan dan proses meminjam lewat perbankan lama dan rumit
    2. Lokasi perbankan jauh dari tempat usaha mereka
    3. Mereka tidak memiliki waktu ke bank karena harus menunggui usaha/warung mereka
    4. Mereka mempersepsikan bank sebagai institusi yang “ menakutkan “
  3. Lokasi : 60% usaha mikro terkonsentrasi di ribuan pasar tradisional yang tersebar diseluruh Indonesia

Berdasarkan hasil penelitian tersebut disadari bahwa kebijakan, produk, dan proses yang berlaku di Bank Danamon selama ini memang tidak dirancang untuk melayani nasabah seperti ini. Alih-alih memaksakan Bank Danamon untuk masuk ke micro banking, maka dibentuklah organisasi khusus untuk melayani nasabah micro ini melalui Danamon Simpan Pinjam.

Diawali dengan pembukaan 6 unit Danamon Simpan Pinjam di 2 provinsi yaitu di Yogyakarta & Jawa Barat ( Cikampek, Cikarang & Karawang ).Semua unit ini berlokasi di pasar-pasar tradisional dengan asumsi  berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya bahwa sebagian besar transaksi keuangan mikro dilakukan di pasar tradisional. Memahami bahwa bukan hanya pengusaha micro dan kecil yang membutuhkan jasa micro banking, DSP dibentuk menjadi dua unit layanan yaitu :

  1. Self Employed Mass Market – SEMM. SEMM dibentuk untuk melayani 19,5 juta usaha mikro dan kecil yang sebagian besar belum memiliki akses ke perbankan.

  2. Consumer Mass Market – CMMSedang CMM dibentuk karena menyadari bahwa dari seluruh populasi rakyat Indonesia, lebih dari 20 juta rumah tangga adalah individu berpenghasilan tetap dengan kisaran penghasilan Rp. 400.000 s/d Rp. 2.500.000, dimana dalam kesehariannya tidak terlepas dari upaya pemenuhan kebutuhan primer maupun skunder yang juga membutuhkan jasa perbankan.

Pada 14 juli tahun 2004 sudah terbentuk 30 unit DSP di Pulau Jawa. Bahkan pada akhir 2004 sudah mencapai 264 unit DSP. Perkembangan yang sangat cepat inilah yang di kemudian hari mendatangkan resistensi dari pemain lama. 

Nasib BPR di ujung tanduk ? ( majalah TRUST 2004 ), Masihkah BPR menjadi ujung tombak pembiayaan usaha mikro dan kecil ? ( Media BPR edisi IV Maret 2005 ). Ini adalah sebagian dari berbagai judul artikel yang menghiasi koran dan majalah terkait dengan keberatan BPR terhadap sepak terjang DSP. Pihak BPR yang diwakili asosiasinya PERBARINDO menyampaikan keberatan kepada BI, pemerintah, dan DPR terhadap keberadaan DSP. Beberapa keberatan mereka adalah DSP seharusnya dalam membuka unitnya mendapatkan persetujuan BI, penggunaan nama Danamon yang sama dengan Bank Umum tapi beroperasi disektor yang tekah digarap BPR, dan berbagai keberatan lainnya.  

Sejalan dengan waktu dan setelah difasilitasi BI, akhirnya pada akhir 2005 perselisihan itu berakhir dan masing-masing pihak semakin menyadari untuk bersaing secara sehat dalam menggarap sektor micro banking karena pasar yang mereka tuju masih sangat besar dan tidak akan mampu digarap oleh salah satu pihak saja.

Pelajaran dari meningkatnya agresivitas bank besar ke pasar micro banking membuat pemilik dan pengurus BPR untuk lebih mawas diri dan berbenah agar dapat survive bahkan memenangkan persaingan.   

Sejak dibuka maret 2004, hanya dalam tempo dua tahun DSP telah memiliki 789 unit dan lebih dari 6.600 staf direkrut. DSP adalah model bisnis yang teruji dan melalui perencanaan yang matang dan ambisius. DSP memahami bahwa ada kebutuhan yang besar terhadap modal kerja dan fasilitas perbankan yang modern oleh para pengusaha mikro dan kecil serta lapisan masyarakat berpendapatan tetap tapi rendah.  

Dukungan penuh dari Bank Danamon berupa pengalaman, teknologi, system, permodalan, dan yang terpenting pemahaman pasar melalui riset terhadap sasaran yang dituju menyebabkan DSP dapat berkembang dengan pesat. DSP memanfaatkan jaringan dan teknologi yang dimiliki Bank Danamon yang disesuaikan dengan kebutuhan dan target market DSP seperti online system melalui VSAT, cap jempol secara eletronik sebagai pengganti tandatangan, nasabah DSP juga dapat menggunakan ATM Bank Danamon, penggunaan kartu elektronik untuk nasabah disamping buku tabungan, portable EDC ( electronic data capture ) untuk mencatat transaksi petugas dilapangan, dsb. DSP kini menjadi penyedia jasa microbanking yang paling modern bahkan jika dibandingkan dengan BRI Unit yang telah lama menjadi pemimpin pasar microbanking di Indonesia.